Labels

Friday, April 29, 2016

Bullying story

Bullying is killing our kids. Being different is killing our kids and the kids who are bullying are dying inside. We have to save our kids whether they are bullied or they are bullying. They are all in pain. 

Cat Cora




My friend tagged me this story in Facebook.  It was a post from 2014 by a teacher.

Worth to share :)





Yesterday, we were working on a story about a 9-year old boy being bullied at school for using a My Little Pony backpack. The school responded by telling the little boy to leave his bag at home... a move that seems to punish the little boy and not the bullies. Many people complained that schools often ignore these issues or simply don't know how to handle them... Among the comments, I came across the story of one teacher who struggled with how to teach kids about the harm caused by bullying. So she decided to use apples as visuals. If you have 3 minutes read this story and share with your teacher friends:
--- I decided to stop by the store this morning and buy a couple apples. During our morning meeting (where we sit in a circle and do spiral lessons), I told my class we were going to try something different and I showed them my two apples and asked them to list the differences and similarities between the two apples. They were both exactly the same color and shape…one was a little brighter and bigger, but that was literally the only difference.
I then held up the other apple that was only slightly discolored and smaller and I said, “Gross. This apple looks disgusting!” and dropped it on the ground. My kids all looked at me like I was INSANE! A couple laughed uncomfortably, but for the most part they thought I had lost my mind.
I then picked it up and passed it to the student sitting beside me and said, “isn’t this apple just stupid?! You should say something mean to it and do this!” Again I modeled dropping it in front of me. “Now pass it to the person next to you so they can say something mean to the apple, too!”
Long story short, my kids got very into saying mean and hurtful things to this apple and dropping it in front of them. “I hate your skin.” “You’re an ugly color of red” “Your stem isn’t very long” “You’re probably full of worms” on and on and on….
So by the time this little apple made it back to me everyone had had a chance to really rip this little guy apart. I seriously started feeling sympathetic towards an inanimate object… but moving on…
I then held both of the apples up for my kids to look at and asked them to now list the similarities and differences of the apples again… It came back the same… There really was no difference. Even after they had repeatedly dropped this apple you couldn’t really tell that it had any damage.

I then asked my students who wanted a piece of the apple… of course… FOOOOOOOD…. and ALL my students raised their hands because they wanted some.
I took out a cutting board, knife and proceeded to cut the shiny apple open. It was perfect. And all my kids “ooooohhh and ahhhh’ed”…
Then I cut open the second one and when I opened it, it was covered in mushy brown spots and bruised all inside from where we dropped it. When I held it up my kids were like, “EWWWWW. I don’t want to eat THAT apple!” “Yuck!” “That looks disgusting…”
That’s when I just looked at them and said, “But didn’t we all contribute to the apple looking this way?! We did this… why shouldn’t we eat it?” They all just kind of stopped and got really quiet and I was like, “See guys… this is what we do to other people when we say mean and hurtful things. When we gossip or call someone ugly or fat or tell them they aren’t good enough or that they can’t be friends with you… we are just dropping them and causing ONE MORE bruise… a bruise that while we can’t see on the outside is VERY REAL and very destructive inside of them! It doesn’t just go away, the bruises just keep getting worse and deeper… THIS!” I said as I held up the bruised apple, “is what we do to each other. We have to stop dropping each other.”
I’ve never seen my kids “get” something so fast before. It was so real to them… people cried and laughed and it was very emotional but absolutely amazing and they got to then journal about everything and some of the responses I got… well, I sobbed all the way through lunch. I had so many kids come up and hug me later and tell me that they were so happy that a teacher “got it”. 
smile emoticon

Tuesday, April 26, 2016

Mereka yg disana....


Waktu jaman sekolah dulu kan sering tuh ada tes IQ dan EQ gitu2. Walaupn not really reliable, tp hasil yg kudapat biasanya perubahan angka di IQ setiap kali test. Cuma yg ga akan ada perubahan adalah EQ ku. Hasil EQ ku biasanya selalu diatas angka normalnya.

Dulu ak ga pernah aware or ngerti apa maksudnya itu, sampai ak mulai sadar seberapa "niat" ak mikirin keadaan orang lain. Ternyata ak br sadar kalau rasa empatiku terlalu besar! Dan itu nyusahin jg sih krn jd bs gloomy sndr klo terlalu dipikirin. Cengengnya jangan ditanya dah. 

Kemudian dengan sensitifitas tinggi ini di masa sekarang ini menjadi dilema krn antara perhatian, peduli dan kepo sepertinya jadi beda tipis yak.  =D 

Jadi, mgkn topik kali ini lebih ke kepo kali ya?? wkwkwkwk

Topik hari ini tercetus karena lihat mbak or mas yg biasa nawarin popcorn di dalam bioskop sesaat sblm film dimulai.

Saat melihat mbak itu, banyak hal muncul diotakku:

- kasihan yg pasti krn tiap ada yg masuk hrs disamperin satu persatu
- mikir rambutnya panjang dan bagus ya
- mukanya gimana ya? ga keliatan jelas. 
- apakah ada yg ruangan ini mencb untuk melihat dy dan say "Tidak. Terima kasih ya." right to her eyes?
- shift nya berapa jam ya?
- rumahnya jauh ga ya?
- kenapa dy bisa kerja disini?
- dll

Kemudian dipikir2 ak jg suka perhatiin nih klo keluar dr bioskop, para pegawainya ada yg berbaris and berterima kasih sama pengunjung. Well, ak sdkt ga bs menerima SOP itu sih.  Menurutku mereka ga perlu melakukan itu loh.  Sama spt mbak yg membersihin toilet dan msih berterima kasih sama pengguna toilet saat mereka keluar. Errr... ga kebalik tu?? Bukannya kita yg hrsnya say thank you sama mereka yg menjaga supaya kita bisa nyaman menggunakannya. Malah kadang pengunjungnya yg ga tau diri ga bs jaga kebersihan. 

Ada pula petugas baju oranye yg bbrp waktu lalu mulai dihargai oleh pemda kita. Menurutku mereka lah yg harus di respect krn mau mengerjakan hal tersebut. Bayangkan klo ga ada org2 seperti mereka di tempat2 umum, kira2 tmpt2 umum itu akan jadi spt apa? 
Mengingat budaya "buang sampah sembarangan" masih tetep susah ilang dr kebiasaan org di Indo, keberadaan para pekerja ini sptnya sangat penting. 

Ada pula  teller di bank, petugas admin or suster di rumah sakit, karyawan hotel, karyawan restoran2, cafe2, petugas pintu tol, dll. Mereka semua mgkn kalau kubandingkan dengan pekerjaanku ya mereka yg bisa dibilang "minor". 

Pekerjaan mereka membuat mereka seakan2 tidak terlihat oleh org2 dr level lebih "atas". Ada bbrp org yg akan merasa bahwa mereka pantas mendapatkan perlakuan seadanya aja krn mereka org yg sanggup membayar lebih or membayar jasa mereka. 
Padahal  mereka juga sedang bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Sama seperti aku yg jg bekerja untuk memenuhi kehidupanku. Bedanya adalah mgkn ak cukup beruntung karena bekerja di level yg berbeda. 

Memang sih kadang ada yg nyebelin sih. Contohnya yg suka nelpon n nawarin kartu kredit dgn maksa.. Ak malah pernah dikatain "asu" krn menolak. *ngamuksihwaktuitu* 
Padahal ud berusaha menghargai orgnya dgn bilang baik2 dan mau menyudahi dgn sopan.  

Dulu ak bisa sebel dan matiin aja lgsng begitu ud mulai ditawarin macam2, or melengos pergi klo org nawarin sesuatu, spt ga melihat mereka lah. 

Sekarang sih ga usah diangkat tlp aj klo ga kenal nomornya, say no dgn sopan dan tersenyum, dan sering bilang thank you dgn senyum n look in their eyes. Life is easier jdnya.

Kalau ak menggunakan sedikit waktuku merenungi hal yg sdh kulakukan dlm satu hari, ak pasti akan menemukan bahwa ak mgkn sudah melakukan hal buruk terhadap org lain dlm pikiran dan perkataan juga perbuatan. Baik itu sengaja ataupun tidak. Semakin sering merenungi ini, semakin ak bs lebih bersabar sih terhdp byk org dan melatih memperlakukan org lain dgn baik. 

Pikiranku cm satu " Mereka jg sedang melakukan pekerjaan mereka koq."

Biasanya pikiranku suka kepo mikirin kehidupan seseorg yg kulihat sekilas. Kalau lagi niat bisa ku observe beberapa saat dan melihat dy berinteraksi. sounds kepo ya?? 

Efek ini adalah ak jd tambah gampang kasihan lagi sama org.
But I can't help it. Tak jarang jg kadang ak bs nangis sesengukan klo melihat org yg terzolimi ga adil. Pdhl kenal jg kaga. 
Seringkali si Mr. A suka lelah liat ak yg tau2 mewek. Ak jg lelah koq cengeng. >.<

Apalg klo ketemu org2 yg jualan keliling, di lampu merah.
Itu kadang ga perlu pn kubeli aja krn mikirnya masih lbh baik drpd mereka minta2 duit. Kdg kasian liat kulit mereka yg sudah terpanggang gosong gt.
Yang sering kubeli ya korek api, koran yg ud sore dijual murah, makanan ringan kecil, pisang (mahal bnr pula).

Prasangka dan pikiran buruk pasti akan selalu terbersit saat kita melihat org2 ini, tapi.... dgn berpikiran positif dan niat yg baik untuk membantu org lain, mgkn saja loh kita memang sudah bnr2 membantu mereka dan yg pasti kita jg sudah membantu diri kita sendiri :)


Apakah berhasil bersabar dan memperlakukan org dgn baik setiap saat? TENTU TIDAK. wkwkwk.

Masih koq ada pikiran bahwa certain people don't deserve it! *LOL* 

Tp tulisan ini untuk mengingatkan diriku sndr sih, untuk selalu mengingat pikiran positif yg pernah terbersit dan jg supaya ga tersedot kedalam kekesalan terhadap org2 tertentu  :)




There's a natural law of karma that vindictive people, who go out of their way to hurt others, will end up broke and alone. 
Sylvester Stallone



Friday, April 22, 2016

Antara menjadi istri dan karyawan..


Semua dimulai sejak dua bulan lalu. One day, Mr. A kena flu dan batuk tertular temannya gitu. Kemudian pada saat itu, ak masih dengan pedenya deket2 aja n msh ask for light kisses lah dr dy karena kebetulan sudah 6 bln lebih nih ceritanya ga pernah kena flu. Jadi pede dgn keadaan fisik sndr. Sampai, akhirnya ak tertular juga. Pada saat tertular itu keadaan pekerjaan itu sedang hectic2nya. Last month itu sekolahku ada acara Field Trip dan kebetulan I was on of the PIC. Field trip 3 hr berturut2 itu lumayan lah ya bikin gempor (I went for 2 days in a row). Trz setelah itu masih ada kesibukan menjelang akhir term 3. Jadi bnr2 melelahkan pekerjaan di sekolah plus dirumah dan juga kesibukan untuk urus tahap2 akhir launching brand clothing line bersama teman2. Setiap weekend pasti busy here and there jd ga ad proper rest banget sehingga yang ada sakitny ak dan Mr. A itu spt hanya muter2 diantara kita. Saling tular menular tiada akhir. #lelahsakit

Perihal sakit ini berlangsung lah sampai ke bulan ini sebagai tahap akhirnya.


April 10, 2016

Hari ini qta drop my MIL and FIL ke bandara karena mereka mau ke Penang untuk check up. Kemudian Mr. A nemeninku untuk meet up sesama blogger lain di Lippo Mall Puri. ^^ 

sayap kiri: AS, The twin sisters of Nini and Nana, Prisil and F
sayap kanan : Heidy and Yudith, Ci Tin, Indri and Mr. Buni 
Pertemuan kilat for me karena uda ada janji lagi dan missed to meet Yanti. Hopefully next one bs full team. Rame pasti!

Pada saat meet up ini sih Mr. A sbnrnya uda ga fit. Dy ga bs tidur sudah beberapa hari. Jadi kurang tidur sekali tapi dy masih mau nemenin ak ke sini. Cuma setelah itu ak masih ada acara ke Open House Yogie Pratama di Pluit (walau bukan capeng lagi tapi iseng2 mau datangin ^^).

Nah, sebelumnya drop dulu deh Mr. A dirumah, trz ak minta dijemput temen aja di rumah. Setelah itu pulangnya nae U*** aja sambil mampir beli bubur angke yg terkenal itu buat Mr. A yg dirmh. 


April 11, 2016

Ak berangkat kerja seperti biasanya dan sibuk mikirin sore pulang kerja mau masak Lettuce Wrap Rice. Kebetulan ga ada mertua jadi bisa eksperimen makanan dengan slow cooker. Jadi, pulang kerja ga langsung pulang tp ngider dl cari water chesnut di PIK area. 

Pas sampai rumah langsung ke dapur karena mau masak dengan slow cooker yang took 3-4 hours jd hrs cpt2 preparing deh. Pikiranku adalah pas Mr. A pulang jd uda tingga makan. 

Abiz siap2 sbntr ak masuk kamar mau ganti seragam and kaget banget pas melihat Mr. A di dalam kamar. Ternyata dia pulang kerja lebih awal setelah lunch krn merasa ngantuk sekali. Jadi mau istirahat. 

Ya udah deh jadi ak lbh buru2 lagi siapin makanannya supaya bisa cepat beres dan qta bisa istirahat sambil nonton "Two Days One Night" yg jd jatah nonton kita setiap hari Senin.

walau masaknya less than 4 hours tapi masih enak dan cukup sukses. sempet bingung ngupas water chesnutnya sih
Setelah nonton abis kita istirahat lebih cepat hari ini. Tapi again Mr. A melek terus semalaman.

Sebelum tengah malam itu ak juga ada kebangun dan liat Mr. A sedang chat dengan sepupunya yg mamanya juga ikut MIL n FIL ke Penang. Dy minta dicariin tiket pesawat pulang untuk hari ini juga. Tapi ga bs lagi krn pasport FIL uda less than 6 months. Pas hr dy arrival jg sempet bermasalah sih di imigrasi Penang. Tp akhirnya bisa masuk. Cuma karena ngantuk jadi ak ga gt responsif sih. 


April 12, 2016

Troubled start. 

Nah, pagi-pagi ak WA sepupunya itu untuk tanya perihal tiket tersebut. Karena tau Mr. A pasti males nanya ini itu dengan sepupunya itu.

Ternyata alasan MIL and FIL hrs pulang cepat adalah karena kokonya FIL yg sebelumnya memang uda dying akhirnya meninggal selepas tengah malam. Karena kamis sudah dibakar dan mau dibawa abunya ke Ujung Pandang, jadi FIL sudah hrs di Jakarta before the day end. 

Ribet lah qta karena masalah pasport itu. Mr. A kukabari soal apek nya yg meninggal jadi dy bs lebih niat cariin tiket. Jadinya, dy ke kantor lbh awal n ke travel di deket kantornya buat beli tiket tp ternyata tidak bisa jg krn sudah less than 24 hours before flight. So, opsi nya hanya cus ke bandara disana dan cari tiket pesawat apa aja yg penting pulang ke Jakarta.

MIL and FIL milih cr tiket yg transit ke Medan dulu sblm Jakarta. Karena yg direct bedanya sekitar 700k perorang. Lumayan kan itu klo bertiga.

Nah, ak emang rencana untuk ijin pulang lebih cepat hr ini krn tahu mau jemput di bandara plus kermh duka. Rencananya ak mikir klo sempet mau masak lasagna dl di slow coooker supaya keburu matang untuk dinner. 

Tapi, belum sampai rumah saja tahu2 Mr. A uda infoin dy sudah dirumah. Demam dan meriang. Dy minta ak pulang lbh cepat lagi tp karena ak masih ada kelas bener2 ga bs left earlier than plan. 

Setelah kelas selasai, langsung cus pulang. Cek kondisi Mr. A demamnya aroun 38 derajat. Dy bilang mau ke dokter sorean. Saat itu dy mikir krn ga bs tdr, radang dy yg dr minggu lalu jd ga tuntas2. 

Akhirnya ak batal masak lasagna krn kondisi Mr. A ga mgkn makan seperti itu. Jadi gantinya masak sup dan tumis sayur saja.

Sore jam 5 ak boncengin Mr. A ke dokter umum deket rumah krn demamnya uda redaan. Kemudian diresepin dokter obat baru yg lain dengan asumsi radangnya ga tuntas. Kemudian ak jg minta disuntik vitamin C karena takut drop lagi dan juga resep obat batuk lain krn sampai hari itu, ak masih sedikit batuk2 dan ga bener2 tuntas . Sedangkan di skul, sakitnya juga berputar2 anatara anak yg satu dengan yg lain jadi takut tertular lagi. 

Mr. A juga minta obat tidur krn dy bnr2 ga bs tidur dan butuh tidur pulas. Setelah dpt resep kita ke apotik untuk nebus. Resep obt tdr itu sempet jd masalah sih krn terlalu tinggi dosisnya dr yg tersedia disana. 
Stlh dokter menelpon apotik itu baru deh bs beres. Tapi proses nunggu resepnya lama banget. More than 30 minutes. By this time, Mr. A mulai demam lagi dan dy ud tambah lemes.

Uda pasti Mr. A ga bisa ikut jemput nih ke bandara. Jadi ak call sepupu nya untuk nemenin ak ke bandara. Ga mgkn kan minta para orangtua naik taksi. 

Sampai rumah langsung buru2 tumis sayur, kebetulan sup uda di masak seblum berangkat ke dokter dgn api kecil dan nasi uda dimasak jg.
Selesai masak kasih Mr. A makan kemudian let him rest dan ak pun langsung berangkat ke bandara. 

Abis dari bandara, MIL and FIL drop ak dan sepupunya di rumah dan mereka langsung berangkat ke rumah duka lagi. It was 9.30 p.m. already. 

Ak dan Mr. A jelas ga bs pergi ke rumah duka krn Mr. A masih terus demam selama 38 derajat. Kondisinya juga lemas dan meriang.

Malam itu, ak bener2 terjaga hampir semalaman ngecek suhunya dan berbagai cara usahain dy bs keringatan dan turun demamnya. And still ga bs tdr walau ud minum obat tdr.



April 13, 2016

Tapi sampe pagi ini demamnya ga turun sama sekali. Still 38. But I have to go to work. 

Jadi, siangan my FIL bawa Mr. A ke Bio Medika untuk cek darah. 

Seharian itu ak chat dan telp barely di reply sama Mr. A.

Kondisinya itu tidak jauh beda dengan sehr seblmnya. Ditambah menggigil. 

Pulang kerja, FIL blg hasil cek darahnya adak DBD dan typhoid positif,  *haizz*  Kolaborasi gitu sakitnya.

Hasil lab nya diantar sih harusnya jam 7 malam. Rencananya habis dpt ak akan bawa k dokter untuk dibacain dan minta obat penurun demam deh. Karena demamnya msh ga turun sama sekali. 

Malamnya MIL and FIL masih hrs ke rumah duka kan, jadi ak yg stay dirmh jagain. Sedangkan hasil sampai stgh 8 belum sampai. I wondered berapa trombositnya saat itu. Jadi telp ke Bio Medika lagi dan minta hasilnya di email aja.

Ternyata trombositnya msih 162.000. Normal between 150.000-450.000.

Ak bawa hasilnya k dokter tp dokter insisted dy hrs cek pasien seblm ksh obat demam. Jadi pulang jemput Mr. A lagi n bawa dy k dokter, Stlh itu br diresepin obat.

Untungnya setelah mnm obat demam itu demamnya reda,


April 14, 2016

Hari ini lebih hectic lg karena hari ini kokonya FIL mau di bakar dan dibawa ke UP. Sedangkan ak ga bs ijin ngajar krn lg kekurangan guru juga. Salah satu guru lg hrs bed rest krn pendarahan diusia kandungannya yg uda 8 bln, sedangkan ada guru lain jg ga msk sudah dua hari. Kebetulan ak kebagian hrs subs satu kelas dan kelas ku hr itu emang jg cm 1 kls. 

MIL and FIL sempet bingung gimna mereka pergi krn misa pagi jam 8. Sedangkan kantor yang kebetulan di rumah jg buka jm 8,30 n sepupu Mr. A yg kerja sama MIL br datang after 8. Mr. A ga memungkinkan untuk turun ke depan bukain. Hari ini jg FIL ikut berangkat ke UP. 

Jadi, ak hrs contact tmnku untuk minta cr pengganti ku untuk subs kelas teman dan ak akan dtg telat stlh nungguin sepupu Mr. A buka pintu gudang br berangkat k skul untuk ngajar kelasku sndr jm 9-10. 
Untungnya dapat penggantinya kelas temanku. Sampai skul, ak terpaksa ijin principal untuk pulang stlh ngajar krn hrs bawa Mr. A cek darah lagi untuk tahu trombositnya.

Setelah wara wiri ngebut di sekolah, terpaksa hrs tinggalin anak2 dengan partner teacher aja dan pulang urus suami makan dll.

Hasil cek darah hari ini adalah 90.000. Artinya sudah turun dan cukup drastis. Krn dapat referensi pemeriksaan dr dokter jd hasilnya pn di update ke sang dokter. Jadi stlh qta diemailin hasilnya, dktr tlp ke Mr. A dan blg kalau perlu rawat inap k RS dy akan kasih surat pengantar. Menurutntya obatnya cm satu sih yaitu cairan.

That's why qta merasa ga ush ke RS dulu n make sure Mr. A drank a lot.

But, that's the problem. Bocah besar satu itu paling susah disuruh minum. Uda gitu seperti big baby yg ga bs describe kondisi dy gt. Frustrated abz.

Pembicaraan  yg bikin frustasi itu kurang lebih spt ini:

Me : Kamu pusing ga?

Mr. A : ........ ngga juga, kadang-kadang aja

Me : Kata teman2ku yg uda pernah dbd pasti badan jg sakit/ nyeri sih. km sakit ga?

Mr. A : ......... ngga sih. cm geli geli aja

Me :   berasa lemas ga? (klo liat kondisi dy uda jauh lbh seger dr seblmnya sih cm msh dikit2 tidur aj krn ga tau mau ngapain)

Mr. A : biasa aja

Me : (-___-') 

Belum lagi kalau di suruh minum dia akan jawab, kenyang, kembung, ga haus, tadi uda minum banyak. ntar lah dll.. >.< 


April 15, 2016

Pagi-pagi siap2 mau kerja uda dibangunin alarm, si big baby itu memelas2 dgn manja gt minta ditemenin hari itu. Jadi terpaksa ak minta ijin ga masuk kerja dengan super berat hati. I knew how difficult it will be at school krn cr pengganti kelas ku. So sorry but I had to. 

Why? Karena sehari seblmnya kita dapat kabar bahwa ponakan MIL meninggal mendadak juga. 

Oh my.. ini pasti MIL akan sibuk k rumah duka lagi krn dy emang deket dengan semua keluarga dy.. 
Dengan FIL jg ga ada, Mr. A sakit, sdgkan dy masih hrs urus kantor dan gudangnya jg untuk urusan bank dan pembayaran. Jadi jaga suami sakit adalah kerjaanku pastinya. Ga mgkn repotin MIL kan

Jadi paling MIL yg ke pasar beli buah dan  sayur. Ak yg jusin, siapin bubur, masakin sup dll buat Mr. A dan dikit2 ingetin isi cairan.  Ak bawa Mr. A buat cek darah lagi juga hr ini.

By 3 p.m. hasil keluar, email diterima dan trombositnya.........27.000.  Doenkkkk.. turunnya jauh abiz dr sehr seblmnya. I blamed it on him yg susah bnr suruh minum. >.<

Trz akhirnya ak reported ke MIL untuk hospitalized aja. At first, she tried to hold till the next day sih. 
Ak juga ada cb tny Mr. A dy mau nya gimana. Again frustrated Q and A with hime:

Me: Hun, km mau ke RS aja ga or dirmh nih?

Mr. A : ...... terserah. di rumah boleh di rs boleh.

Me :Lah..km rasanya gimana?

Mr. A : biasa aja sih. ya gitu.

Ya owooooooo.. susah amet ya dpt jawaban pasti. Akhirnya ak bw hasil lab nya aja ke dokter lagi dan dokter begitu liat lgsng bilang hospitalized aja takut pendarahan dan dikasih surat pengantar.

Jadilah hari itu qta ngungsi ke RS. Ak siapin barang2 yg diperlukan buat nginep berdua. MIL yg anter ke RS.

Sampai di RS pun masih ribet buat masuk. Harus ke UGD dl lah, tindakan dululah, dll. 

Awalnya dktr UGD nyaranin masuk ruang intermediate room, kls below ICU before room biasa. Tp ak dan MIL merasa tidak perlu. Ini pure cm krn Mr. A ini susah bnr diksh minum cairan jd ngandelin infus dah terpaksa. Tapi kita ambil room VIP aja krn ak hrs jaga dan ga pengen jg sih share room toilet ma org lain plus jg biar gmpng yg visit klo MIL krn dy hrs kerja jg plus biar Mr. A bs istirahat lbh baik krn biasanya dy ga bs tidur klo ada noise.  

Kemudian stlh 2 jam br akhirnya masuk room. Dan dites darah lagi trombositnya uda terjun ke 19.000. 

Jadilah hrs bed rest total.

Malam itu lelah bnr krn bntr2 bangun si Mr. A minta pipis (30min-1 jam sekali). Dy masih blm terbiasa dgn segala selang tp hrs pee di tabung gt. Uda gt, infusnya cukup cepat habisnya klo ga di cek kebablasan jg darahnya jd naik. Sedangkan panggil susternya klo dipencet call mereka pake nanya dl "Bisa dibantu?" dari posisi Mr. A jauh dr mikrofon sk ga kedengeran dicuekin sama susternya. >.< 

Jadi hrs lbh melek lg. 

April 16-17, 2016

Untungnya itu pas weekend, jd ga ada pusing hrs ijin kerja. Tapi perkembangan Mr. A lambat. hari Sabtunya trombositnya turun ke 8.000 dan stucked. I relieved krn artinya kan itu ud titik terendahnya. Pas trombositnya ud 8.000 lah br Mr. A mulai dikit2 minta minum. Tapi fisiknya malah terliat lebih segar dr seblmnya. Untungnya dy ga demam sedikitpun sejak hr Rabu itu mnm obt demam.

Di hari Minggu br mulai naik 1000 ajah saudara-saudara. Jadi 9.000 di pagi hari dan 19.000 di malam hari.  Lambaaat.. Ak gemaas dan mulai worry that Monday is coming.

Karena ada typhoid jg jd makanannya di jaga jg ga blh keras2. Padahal klo cm DBD sih bebas kn makannya. Naseb emang nih bocah.

Minggu pagi dokter uda kasih suntik booster sih krn naeknya termsk lama mengingat turunnya terjun bebas gt. Mr. A jg uda mulai bosan dan he even felt sorry for me. Hari itu, batukku mulai kumat parah dan ak mulai ga enak badan. Cm masih berusaha bertahan. Weekend yg pasti jd banyak yg visit. Tiap mo tdr ada aja yg datang. 

Hari ini FIL pulang dr UP dan br tau klo Mr.A hospitalized :D


April 18, 2016

So, dlm kondisi badan uda superb tired n ga enak body. Ak memutuskan ijin kerja lagi hari ini.. Haduuhh.. tak terkira ga enaknya. Mana kelasku penuh hr itu. Untungnya cm ujian. Uda gt tmnku mulai kewalahan krn byk jg kerjaannya n ada guru yg absen krn mamanya meninggal jg. Yang bed rest jg msh blm msk. Jadilah ak ga enak ati bngt. 

Tapi bnran dah badan ud rontok tp ak decided klo Selasa pasti msk no matter what. 
Hari ini trombositnya naek ke level 30.000 sekian. Masih donk ya merangkak. Dokter msh ga kasih pulang krn msh rawan internal bleeding. Padahal Mr. A nya mah uda bosen tingkat wahid sih. 

Ak pulang sbntr ambil seragam kerja buat berangkat pagi2 dari RS ke skul. Feeling sih bsk dy pasti bs keluar sih. Jadi for tonight aja. Trz ak mampir ke dokter buat cek batukku lagi. Ganti dokter. Ternyata dktr blg batukku tu awalnya dr flu biasa tp ga tuntas, reaknya turun k saluran pernapasan deh. 

Huff... Ak PP nae G***k aja krn deket n cepet. Sepanjang jalan batuk2 gila. Sampe RS sempet muntah depan RS. Sampe dikira ak sakit n disuruh duduk kursi roda. 

Hari ini Mr. A ud lbh better lg. Pipisnya ud ga perlu dibantu lagi kn jadi ak bs byk tdr. 


April 19, 2016

Pagi bangun rapi2in semua barang2 n siap2 mandi buat kerja. Masih sempet keramasin Mr.A dan urus dy ganti baju dan sikat gigi. Pede abiz dah hr ini pulang padahal blm tau trombo bs pass 50.000 ga. 

Mikirnya ga perlu pe 70.000 uda mau pulang aja. 

Ak ninggalin Mr. A di RS sih dan minta dia update kabar aja. 

Untungnya bs pulang krn trombo uda 57.000. 

Yey...sleep on my own bed tonight!!

Ak jd bs tenang beresin kerjaan deh skrg.




Huff... sampe hari ini ak msih minum obt dokter. Tapi batuk uda mendingan banget. Tapi Mr.A keknya ketular >.< 

Kapan lingkaran setan ini berakhir yeeee???


Yang pasti klo mikirin tanggung jwb jd istri dan guru itu sama2 beraaat.. Susah untuk memilih. Bener2 menunggu bulan Juni dan let this job go... Sabar yaaaaa, Shallllllll!





Tuesday, April 19, 2016

The mind blowing questions..

I think you know that my job is a teacher (currently). Seringkali ak mendapatkan pertanyaan-pertanyaan aneh dari murid-muridku. Beberapa diantaranya masih teringat jelas di otak saking amaze nya ak.

Here there are:

- Scene 1

Ka : "Ms. I am stomache."
Me : "Do you want to put the cajuput oil?"
Ka : *ngangguk2*
Me : *lagi olesin MKY nya di perut si anak*
Ka : *starring at me*
Me : "Why?"
Ka : "Your hand  is almost feel like my mom's hand you know, Ms. Almost."
Me : *smiling and confuse*


- Scene 2

*tiba-tiba ada anak yg out of no where approach me and ask me :

N : "Ms. are you a mother?"
Me : " No. Why?"
N : " But why do you feel like a mother?"
Me : *entah hrs sedih atau senang*


- Scene 3

Ke : "Miiissss... do you know where I could buy a lip balm that has no taste? I want to buy it. Please tell me."
Me : " I don't know. I am not using it."

Jawabnya ngasal aja sih, abis mikir juga tuh anak br kelas 3 sd boooo..

-Scene 4

Ke: "Ms, what is your husband' name?"
Me : "Why?"
Ke : " I just want to know."
Me : " Lee Min Ho."
Ke : *loading sebentar* then " NOOOOO! I know his face, I have his Line. Show me your husband's picture. I can know."
Me : *ngakak*

Buset deh anak kelas 3 uda pnya Line juga.

-Scene 5

Ric: " Are you Ms. Shally?"
Me: "Yes.. Have you forgotten me already. I taught you 2 years ago.'
Ric: " But, you look more beautiful before."
Ric: " You look old now."
Me: "*speechless*




Jleb bgnt ga tuh. Anak kelas 4 sd bs ngomong gt. Well, boy, aging is sucks! *LOL*

Those 5 scenes out of hundreds....


You never stop learning. If you have a teacher, you never stop being a student.

 Elisabeth Rohm

Saturday, March 26, 2016

The Job (method for different kiddos) ... #3

Jangan bosan yak.. Ini last part koq ^^



Apa sih itu guru?
Apakah hanya sebatas orang yang memberikan ilmu kepada seseorang?
For me, teaching is more than that. BUKAN hanya mengajarkan pelajaran melainkan membimbing sang anak juga. During my teaching life, banyak sekali tipe anak yang kutemui.

Ada hal yg mau ku share ttg menangani anak nih berdasarkan pengalamanku.
Selama bbrp tahun ini, ada bbrp anak yg dlm pengawasanku butuh perhatian khusus selama ak mengajar di sekolah sekarang ini, antara lain:

1. Si M. 
Waktu thn pertama masuk sekolah ini, ak jd wali kelas dan saat ambil daftar nama anak, ak langsung dikasih warning oleh VP bahwa anak ini hrs hati2 krn sk nae meja sndr, or wali kelas di level sblmnya di warning jg dy ini kasar. 
At that time, ak cm dengerin aja sih dan berusaha tidak menggunakan kata2 mereka sebagai acuan krn jdnya akan memicu mindset yg salah kan klo ak lgsng percaya. 
Ternyata....1 term pertama itu spt roller coaster buatku setiap hari! Amsiooong. hahahaha..
1 anak aja bs sebegitu destructivenyaaaa. Uda gitu tiap hr berantem terus sama anak lain. 
Dan selama 1 term itu anaknya selalu dibawa k counselor room. Bahkan anaknya bs pecahin meja hanya dengan satu gebrakan kakinya. Ud gt dy ikut wushu pula. alamaaak.. stress ak.

At the end of term 1, ak berpikir bahwa klo dikit2 refer k counselor jg ga bs nih. Jadi ak mati2an mikirin bagaimana alterin emosi anaknya dr ke org jd ke benda dl deh. Krn disuruh menuliskan perasaannya tidak mempan tuh dr counselor.
Kemudian selama term 2 ak mulai observed anak ini lbh khusus. Kenapa dy bisa selalu bereaksi dengan keras setiap wkt? Kenapa dy bisa segitu defensifnya? Kenapa dy bisa sering terlibat pertengkaran? 

Hasilnya mengejutkan loh:

Intinya hanya "judgement". Label kata bandel yang diberikan ke si M ini sejak dy di level sebelumnya sudah menjadikan tindakan yg diambil oleh adults sekitarnya menjadi bias. Kalau diusut2 dan diperhatikan kalau dy terlibat dgn temannya, seringkali yg mulai temannya malah. Tapi saat si M ini bereaksi, tmn2nya akan lgsng menyalahkan si M. Jadi si M menjadi lbih defensif lg. 

Kalau di level sblmnya kebetulan wali kelasnya expatriate dan language barrier jd klo si M marah or ngamuk dan jd harm tmnnya lgsng deh ortu si M dipanggil, ortu anak yg bersangkutan jg di info. Akhirnya jd terbentuk opini dari ortu2 lain bahwa si M ini bahaya loh dan anak2nya di warned jg. Alhasil walau ud dipisah jau dr kelas dy seblmnya tetep aja anak2 lain ud mikir si M ini bandel loh. Jadinya saat mereka teased si M, dan si M marah, jadiny kesannya M nya yg bandel. 

What I did? 
Gained M 's trust dl deh. Karena M ud terlnjur berpkr bahwa guru2 pasti "always blame me". I felt hurt when he said that. So, ak berusaha untuk selalu by one talk dgn dy dan berusaha membuat dy talked his feeling, asked him to talk to the teacher instead of he solved it physically or verbally. Term 2 itu struggled bgnt. Tapi...good newsnya no more councelor. 
Ak jg berusaha terangin ke para ortu lain di klsku bahwa si M tidak spt itu, ak berusaha protect anak2 mereka jg sih dr si M ini klo M sedang marah. Jadi by end of Term 2 ga da lg sih sounding2 ortu worry. 
Si M berhasil survived tanpa physically abused temen2nya lagi. Tapi memang need extra strength n voice sih tiap hr. Literally, every single day pasti ada negurin dy. hufff..
At the end of that year, wali klsnya di level sebelumnyatny ke ak " what did you do, Ms? he becomes so nice ya."  Ak cm senyum aja dah, (long journey....-__-)
And mom nya jg thanked me that I didn't always report bad things n tried to ask her help at home. Jadi mamanya jg susah komunikasi nih ceritanya dgn wali klsnya dl. Jadi guru expatriate jg ga selalu bagus loh. Trz ak jg request ke VP untuk put that boy di kls yg wali klsnya lokal dah di level berikutnya.    

2. Si S dan Mt.

Tahun ketigaku ini ak spesial request 2 anak khusus untuk di kelasku. Bukannya cari perkara sih tp simple krn ak kasian sama dua anak ini. They have been misunderstood a lot sama wali kelas mereka sebelumnya (yg expatriate jg)

-- S ini tu anak yatim. Right before dy msk SD kls 1, papa nya meninggal. Dy kebetulan anak bungsu dan beda jarak usia 4-8 thn dgn saudara2 nya yg lain. Sejak papanya meninggal otomatis mamanya hrs jd tulang punggung keluarga. Kebayang donk anak masih kecil dgn beda usia jauh, dan satu2nya orgtua yg sibuk, dy akan merasa kekurangan perhatian pastinya. Efeknya wkt kelas 1 aja emosinya sudah tidak bagus, Bisa sobek2 buku, marah n ngambek plus ngadat ga mau ngapa2in. 
Tapi setiap anak perkembangan emosi akan berkembang jg seiring dy bertambah usia, tp guidance tetap dibutuhkan. Skrg dy sudah kls 3. Dan alasan ak mau dy diklsku adalah mau mendisiplinkan dy untuk mandiri. Dr level sblmnya dy sudah termsk segan sama ak. Temen2nya dl wkt dy berulah pn yg dipanggil ak pdhl wali kelasnya bukan ak. 
Si S ini jg dl langganannya counselor krn ga ada guru lain yg bs dy dgrin dan trnyata dy mau dgrin ak. 
So, apakah berjalan lancar training dgn si S? tentu tidak. wkwkwkwk.
Tiap hr di Term 1 hrs di "nyanyiin" namanya. Diingetinnya makan yg bener, jgn lap dibaju, rapiin yg ud dibikin berantakan, cb cek tas nya, ini itu.. pokoknya teruuuus diingetin. Kesulitan dy yg lain adalah dy itu tdk ada teman bermain yg khusus krn dy terliat aneh, dan jg sulit mengungkapkan perasaannya. Sampai term 2 dy kalau ditny sesuatu yg ada ditny balik.

Contoh:

"S, what did you do before you eat?"  Dia akan tanya " do what?" *guru Englishnya cm bs haizzz*

Pernah dy cakar tmnnya tanpa alasan. Jadi ak panggil dy dan bertanya:

Me: "S, did you chased her outside and sracth her?"

S : diem.... * I assumed dy ga ngerti nih bahasa inggris kan*

Me : " S, km ada cakar temanmu ga?"

S : " Ada itu apa?"

Me : hufff.... " Tadi kamu cakar temanmu ga?"

S : " Iya."

Me : " Kenapa?"

S : " Karena........."

Udah selesai gitu aja krn dy ga akan bs jelasin kenapa. Seharian ditnyin jg gt.

Tapi.......term 3 sudah berakhir dan dia sudah bisa loh kasih reason skrg, uda bs komunikasiin, ud bs makan rapi tanpa ditongkrongin, uda ada tmn main dan uda bs ngbrl seru dgn tmnnya.  ^^ 
Mom nya jg bae untuk membantu disiplin untuk bisa makan rapi dirmh n makan sndr dan nanny barunya keknya jg baek.  ^^ but I am worry bout her next year. Semoga dpt wali kelas yg bs support dy jg.


-- Mt ini anak yg unik. Dia pintar dan lebih kecil posturnya dibandingkan anak-anak yg lain. Sejak awal bersekolah di sekolah ini, food is one of his issue. Last year, dy sampe di paksa banget untuk makan. In my opinion, food itu bukan sesuatu yg dipaksakan makan loh karena seperti halnya belajar yg dipaksakan, itu akan memicu traumatic event buat sang anak. I guess even as adult kan kita ga akan suka harus dipaksa.

Kemudian Mt ini juga termasuk lelet krn ga konsen gt klo do something (suka ngayal) dan sensitif sekali dengan words from others, jd dy diperlakukan sebagai fragile boy oleh org sekitarnya. So, this year I want him in my class.

What I do?

I put him equal as others. Ask his help, make him leader, make him pay attention to detail and responsible and negotiate about food with him.
Kenapa negotiate? karena dy anak yg smart, ak berpikir bahwa paksaan will no good, membiarkan dy seperti itu teruspn salah. He is way too skinny and small.

Di sekolah, lunch is provided. Biasanya 2 macam sayuran, 1 gorengan, 1 sup dan nasi. Anak2 diharuskan  makan semuamya tanpa kecuali sebisanya. Dan semuanya di campurkan dalam 1 bowl untuk nasi dan sayur n 1 bowl lain untuk sup.

Sbnrnya Mt ini lahir dgn masalah pencernaan sih, kemudian ada bbrp veggies yg dy alergi jg. Kemudian lidahnya itu sensitif sekali dengan makanan baru dan tidak suka makanannya dicampur2 ( huff)..

So, ak buat target dl. Dr hari pertama masuk sekolah dy termsk yg ud di list untuk di trainning. Biasanya ak buat target per kelas. Misalnya 3 bln pertama mereka harus bs disiplin dgn class rules, 3 bln berikutnya train anak untuk aware dgn role mereka sebagai leader ( gantian pastinya sekelas semua merasakan jd leader), dll.. Biasany dgn cara ini by the end of last term tahun ajaran tu, anak2 bs ready to the next levelnya. Perubahan maturity mereka jelas sekali.

Nah, dgn Mt ini target ku adalah make him finish before time. Dy harus bs brush teeth jg like others after lunchnya. Sdgkn dy selalu selesai mepet.. Cut it short, skrg jelas Mt bahkan bisa brush teeth and masih bs read books lagi sebelum lunch time over.

Bagaimana dgn dy yg picky food?

Itu proses yg panjang. Pake acara curhat session segala. Ak nanya kenapa dy ga suka, mostly krn dy blm pernah coba or krn tastenya menurut dy aneh, Awalnya, ak ksh dy makan secuil secuil dan minta dy try first then tell me how's it taste. Kemudian klo yg dy suka, ak akan kasih more tapi dgn catatan try eat walau hny satu yg dy ga suka. Untuk first month bnr2 duduk dgn dy liatin makan. Tapi lama2 ak blg sama dy kalau I trust him to finish it well. When he did it, I praised him. When he's not I said u can try better tomorrow, okay..
Ada pula saat2 I empathized him kalau dy susah makan krn superb ga enak foodnya.

Hasilnya: Yang pasti dy jd agak gemukan, celananya ga ada yg terus menerus melorot, even his mom said he eats more types of veggies and even can request some at the restaurants.

Generally, Mt berubah drastis by the end of this term, dy bahkan sudah bersosialisasi dgn teman2nya. Dulu dy cm wandering around sndr saat break time tp skrg dy ikut main. Menjd leader jg membuat dy lbh percaya diri lagi. Dy menjadi gampang diajak komunikasi dan bisa menjelaskan dengan baik.

Satu hal yg pasti, anak2 yg berkembang di satu sisi, pasti akan memicu perubahan sifatnya jg. Yg tdnya mgkn ga cranky bs jd lbh cranky, for me itu ud pasti.. Saat anak lbh terbuka pikirannya pasti dy jg akn menjadi lebih terbuka dgn emosinya. Which is good donk drpd dy memendam aja.


Sebenarnya masih BANYAK lagi case2 yg ak temui dr anak2 Case anak yg suka ambil barang org lain, case anak yg sk bohong, anak yg ADHD, anak yg sdkt autisme, dll. Believe me semuaya ada pemicunya loh. Sebagian semua butuh perhatian orgtuanya.

When I handle teen masalahnya beda lagi. Kadang2 anak2nya bisa curhat bertanya bagaimana caranya supaya tdk di bully, bagaiman supaya terliat cool, mostly sih kepercayaan dirinya yng menjadi issues.
Tapi dgn teen, yg paling penting adalah listen to them as friend. Mereka butuh rasa empati, mereka br bisa menerima masukan saat qta memberikan saran yg real ketimbang hanya saran "kosong".Oh trust me, teenager knows that, kalau kita lbh banyak menyarankan drpd mendengarkan mereka,  they will stop to talk dan akhirnya fell apart deh.

Conclusion:
1. Setiap anak tidak bisa disamakan. Itu benar, tp metode yg digunakan bisa dikembangkan dr yg ada. Itu bukan hanya tugas guru sekolah or les or psikolog tp itu tugas utama orangtua.

2. See the value of each child. Not what we want them to be.

3. Jangan pernah menyerah akan mereka krn mereka tidak punya siapa2 lagi selain org dewasa disekeliling mereka.

4. Pahami bahwa setiap kepribadian anak itu bukan hanya terbentuk dr lingkungan dan dari cara mendidik, tapi ada pula yang merupakan bawaan dasar sang anak. Jadi don't blame yourself also.

5. Treat them like you wanna to be treated as adult.

6. Mereka tidak akan bisa memutuskan untuk diri mereka sendiri kan? Guess who?  Make a right one.

7. It's not always count on parents aja loh tp juga setiap adult disekitar mereka hrs pny same vibe.

8. Rasa kasihan tidak akan membantu mereka.


Personally ak lbh sk ngajar anak antara kelas 1-3. Kenapa? karena disanalah basic mereka. Dalam pelajaran dan juga core value mereka. Diusia 8-9 tahun, banyak anak yg sudah terlihat arahnya kemana, jd ak lebih suka stay di level itu untuk guide them. Setidaknya hopefully they have enough basic to stay on the bright side. Karena begitu masuk kelas 4, anak2 lbh mudah ikut arus dan kalau dibiarkan lah itu lah susahnya dibentuk kembali.

Counselors di sekolahku pun bilang bahwa setiap tahun, masalah terbesar datang dari area fourth grade. Anak yg ud terliat troubled di kelas 3 dan dibiarkan, menjadi merajalela dah di next level.

Dalam bbrp case ak suka diskusi dgn counselor2 sekolah. Dan waktu ak share keprihatinan ttg anak2 jaman skrg yg too early msk sekolah, mereka setuju jg. Sosialisasi dan ability dalam baca tulis selalu jd fokus utama. Padahal menurut mereka yg utama itu motorik dl. Krn ank yg pintar dan motorik kurang jg jd masalah. Anak yg tidak bisa baca dan tulis dgn cepat di usia 4-5 thn bukan berarti anak itu kurang pintar dll.. But, it's not their age yet loh. Ak pernah disuruh lesin anak 4 thn baca tulis. Ya anaknya cranky lah.
Imagine mereka sekarang sekolah kelas 1-2SD minimal pulang jm 1-2 siang, trz les ini itu (inggris lah, mandarin lah, pelajaran lah, gambar lah, kumonlah, dll), pulang sampai rmh jam 6 paling cpt kayaknya. Ad yg jm 8 bahkan ada yg papanya bs dirmh duluan.

Jam mainnya? jam boci nya ( we know how goodto have a nap is)

Kebayang ga sih brp puluh tahun lagi mereka akan bersekolah? Enek ga?


Sebagai seorg guru, sering juga loh ditanyain sama saudara atau teman mengenai bagaimana menangani anak mereka. Biasanya ak ga bs ksh jawaban yg exact krn ak tipe yg hrs mempelajari sang anak dulu. Jadi, ak biasa menggunakan cerita dr pengalaman2 ku dan yg pernah ku lakukan.
Hanya saja seringkali sebagian dari mereka akan beranggapan jd guru beda loh jd orangtua, atau beranggapan ak bukan ortu jd keknya itu tidak mgkn diterapin. Lucunya mereka selalu mengalami hal itu berulang2 dan bertanya terus menerus.

Tapi ada jg yg berusaha disiplin dr awal, never too early menurut mereka daripada menyesal. Kebanyakan sih yg mengerti yg memang sudah pernah melihat byk cases sih.

Menjadi guru ga menjamin jg anak2nya akan lebih baik koq. ^^

I don't know what kind of parents I would be. So, let me remind myself through this page.

I am not dictating, I am not correcting. I  just want to be a good parent one day.





" Children are like wet cement. Whatever falls on them makes an impression." 
Dr. Haim Ginott















Saturday, March 19, 2016

The Job (suka dan dukanya) #2

Yuk lanjut...

Adakah yang sudah pernah nonton "Freedom Writers" yang dimainin oleh Hillary Swank thn 2007. Yg belum boleh deh ditonton. Fiuh... itu salah satu film yang bener2 inspiring me banget sepanjang hidupku selain "The Children of Huang Xi" 

And..kebetulan both of the movies are about teacher and children. 

Waktu ak masih kuliah, ada salah satu wise woman said that teaching is my destiny. I create good karma by being a teacher dan ga semua org bisa mengajar.. Mendengar itu sih ga membuatku super happy loh. 

Why?

Karena sounds boring to me.  

Setiap pekerjaan di dunia ini punya kelebihannya sendiri. Menjadi gurupun seperti itu. Ada suka dan dukanya juga nih.

I am not trying to blame on someone or something ya by this post. Tapi lebih ke sharing and also reminder untuk diriku sendiri. 

Dukanya?

Ak mulai dr dukanya dulu ya. 

Guru di sekolah dan di tempat les itu berbeda loh dukanya. 

Kesulitan menjadi guru (I guess in the whole world mostly the same now) itu kalau kita tidak dipercaya mendidik. Campur tangan pihak ketiga diluar sekolah yang besar juga menyulitkan kita khususnya orangtua jaman sekarang. I remembered when I was young, my parents ga pernah ada kesekolah complain this and that. Ak diksh hukuman gimanapn ga dibelain tuh. But, it doesn't mean yg dilakukan guru sekolah dulu benar adanya. Berangkat dari hal itulah, sptnya orangtua yang berada di jaman dulu itu merasa mereka harus menjaga anaknya sekarang, Beberapa juga sudah menganggap mereka bayar sekolah ga murah, jd anaknya jg hrs dapat yg terbaik. Jadi, kalau anaknya dihukum menulis, ada yang protes dan tidak terima. 

Ak pribadi tipe yang tidak setuju sih dengan kata "hukuman" tapi lebih ke kata "konsekuensi". Esensi dari dua kata itu berbeda kalau kita terapkan ke anak2. Ak tidak suka mendengar anak dihukum, tp mereka tetap hrs tahu bahwa hal buruk yg dilakukan akan ada konsekuensinya. Agar anak mengenal efek jera dan jg menjadi lebih responsible dengan tindakan mereka. 

Contoh hal-hal yang bisa diterima guru sekolah yg bikin kita stress:

- Saat anak tidak bikin PR, ortunya email or wa or tulis di buku agendanya bahwa anaknya tidak bikin krn diajak oleh ortunya dan minta kita untuk kasih kelonggaran besok br kumpul. 

- Saat ada ulangan harian lebih dari satu langsung diprotes rame2.

- Saat ada PR lebih dari 1 dalam satu hari juga diprotes.

- Saat anknya ada bekas gigitan nyamuk, trz yg disalahin gurunya.

- Saat anaknya di kasih konsekuensi krn melakukan kesalahan di kelas pun di protes (tidak bikin pr, isengin teman, berantem, jalan2 saat pelajaran, dll) --ada loh ortunya yg jawabin : "Ank co kan harusnya emang bandel, klo terlalu lembut nanti jadi kayak cewek. :" *sigh*

- Saat ada kegiatan sekolah diluar sekolah, byk ortu ikut dan mengkritik setiap hal yang terjadi dilapangan. (seakan-akan kita sedang menyiksa anaknya). Contoh: field trip out door ya pastinya ga akan terhindar dari nyamuk, panas, dll tp kita yg diprotes. 

- Ada jg yang berusaha mengubah kurikulum dengan "their thoughts". 

- dan masih banyak lagi


Itu sih hny sedikit yg too much sptnya, but I can understand kalau setiap orang tua pasti mau yang baik untuk anaknya. 

Kalau guru les beda lagi.

- Biasanya org tuanya itu tidak bisa bahasa inggris, tidak ngerti pelajaran anaknya. Jadi semua diserahin lah ke guru les. Jadinya guru les diharapkan harus mengajar semuanya. Kalau nilai jelek, salah jg gurunya.

- Jam ngajar les private biasanya susah dibatasi, ada perasaan membantu anaknya sampai rampung jd biasany over time (for me ya).

- Belum kalau anaknya ngambek ga mau les or sleepy or have to wait him/ her dr tuitionnya yg lain.

- Susahnya mintain duit les........... apalagi klo lagi BU. hahahaha


Ada jg hal2 lain yg ga enak dan bukan dr faktor orang tua:

- bikin soal2 latihan, ujian, kelas tambahan ( yang biasanya byk revisi dr pihak atasan ) ini biasanya bnr2 butuh inspirasi dan biasa bisa berhr2 kerjainnya eh dikerjain anak2 cm 15-30 menit. wkwkwkwk

- kalau sakit ga bs ijin seenaknya apalag klo wali kelas

- tanggung jawab terhadap anak2 ga hanya sebatas mengajar mereka pengetahuan tapi juga mendidik mereka supaya baik dan tahu yg bener dan salah 

- ketika pihak sekolah membebani tugas guru lbh banyak lagi dgn kegiatan2 lain disaat2 kita msh harus koreksi ( a lot!), isi raport, dll

- Ketika ngajar dan masuk k kls yg somehow anaknya susaaaah bgnt diajarin. Harus selalu pake tarik urat br pada dengerin. Kalau ga anknya bengong mulu, ngayal, ngbrol dikit2, kepo dll. Thn ini ada kls yg begitu tuh. wahid bgnt deh tiap abz keluar kelas.. drained!


Sukanya?

Nah.. sukanya ini nih yang bikin dukanya tak terasa ^^

Guru les dulu ya:

- Kalau ada anak yang nilainya meningkat setelah kuajari itu menyenangkan

- Ketika ortunya appreciate what I did, malah bisa jd tmn curhat lagi ortunya ^^

- Ada ortu yg percayain anaknya ke ak jg dalam hal mendisiplinkan anaknya (katanya anaknya lebih dengerin gurunya daripada mamanya) 

- dan ketika anaknya mau curhat ke kita khususnya yg ud puber itu rasanya menyenangkan bs membantu mereka dgn just listen


Kalau guru sekolah:

- Ketika org tuua sharing ttg bagaimana anaknya berkembang menjadi lebih baik dalam wkt bbrp bulan

- Ketika org tua minta tolong untuk membantu anaknya jd lebih baik lg dan bahkan minta input bagaimana mengajarinnya dirmh

- Ketika org tua mensupport sistem pendisiplinan yg kuterapkan di kelas dan melakukannya dirmh sehingga anknya menjadi lebih baik dalam waktu singkat

- Ketika org tuanya terharu krn hal yg dapat dilakukan anaknya di sekolah

- Ketika org tua mendukung guru-guru dan membantu menyuarakan ke ortu2 lain

- Ketika anak2 yang mengingat kita walaupn sudah naik kelas

- Ketika anak2 menganggap bahwa mereka bs terbuka ke ak dan tau bahwa suara mereka akan didengarkan dan mereka akan selalu memberitahukan banyak hal (walaupn bukan wali kelas mereka)

- dll

Masih banyak yg lain sih yg ak ga bs ceritain detail. Tapi ak senang saat bisa membantu orangtua jg karena bagaimanapun sekolah dan rumah adalah dua tempat dimana anak2 menghabiskan sebagian besar waktunya.

Berita buruknya adalah bahwa tidak semua guru memang niat menjadi guru. Di Jakarta sndr, profesi guru di sekolah internasional or national plus itu pny kelebihan yg paling utama yaitu salary. 
Kebanyakan dari mereka ya mgkn memilih jd guru krn libur byk, gaji enak n santai. Apalagi untuk guru yg non wali kelas dan ngajarnya non core subject spt musik, olahraga, agama, itu kan mereka kebanyakan tidak ada koreksian dan hny harus siapin materi mengajar dan nilai. Jadi, ada jg yg tdk peduli dgn perkembangan anak2nya. #miris

Tak bisa dipungkiri loh kalau orang tua tetap jd pendidik nomor 1. Jadi label "guru" itu akan dimiliki oleh semua yg sudah menjadi orangtua.

Dengan menjadi guru, ak byk melihat bagaimana peran ortu dan lingkungan sang anak membentuk pribadi anak itu. Dan jadi org tua itu sgnt tidak gampang. 

Sebagai guru, ak jg berharap bahwa ortu bs melihat bahwa guru bukan musuhnya tp alliance nya. 

Ak jg byk belajar parenting itu dr para ortu2 itu. They help me to understand parenting. Ketika ak melihat anak2 wali ku berhsl mencapai perkembangan, prestasi, saat mereka show empati dan simpati ke org lain atau bahkan hanya performance kelas akhir tahun saja ak bisa ikut merasa terharu. 

I thought that, if I can feel this, the parents must be feel more.

Jadi kdg klo ortu berkaca2 saat ngbrl denganku, ak jg sk ikutan terharu. Untungnya blm pernah sampe yg nangis bareng2.. Kan ga lucu.... >.<

Dengan jd guru, ak jg jd lbh mengerti apa yg sdh ortu lakukan sebagai ortu. I don't have to wait until I become a mom to understand. The students help me.. ^^ Thanks kiddos..

"But even an ordinary secretary or a housewife or a teenager can, within their own small ways, turn on a small light in a dark room." 
Miep Gies character in Freedom Writers

Friday, March 4, 2016

the Job....#1

Seperti para remaja pada umumnya, pada usia 12-17 tahun, aku juga punya cita-cita. Tapi yang pasti jadi guru ga pernah tuh ada di list. Soalnya dulu aku paling sebel sama yang namanya belajar.

Cita-citaku dulu antara lain sbb:

1. Designer Interior or arsitek, tapi gagal karena ga ada bakat ngegambar n ga ada niat rapi n telaten gitu kalau mengerjakan detail. Trz ini juga karena di salah satu hasil test psikologi waktu SMA, ak termsk kurang dalam membayangkan sebuah ruangan. *alesan* .Padahal my mom malah dulu pernah juara lomba gambar n profesinya penjahit n rapi. *jadi ga jaminan deh bakat nurun ke anak. wkwkwk* 


2. Arkeolog, ini salah satu cita-citaku yang bener2 kupikirin karena ak suka banget dengan dengan mempelajari sejarah, dan amazed dgn kehidupan di masa lampau. I often found myself imagining live in the past when I read articles or books about it. Selama SMA juga pelajaran antropologiku selalu paling tinggi setelah languanges. Tapi saat hrs mikirin jurusan apa yang diambil, ternyata ak ga bs menemukan jalur untuk menjadi arkeolog di universitas Indonesia (as far as I know that time). Ini yg paling kusesali sampe sekarang. :(

3. Business woman, waktu SMP menurutku ini pekerjaan yang seksi. Yep, seksi bo krn bs pakai baju keren, terlihat cool dgn heels and been busy is sexy also for me. ^^ Ak membayangkan diriku great at work n cool as mom also. 

4. Tour Guide, at some part of my life, ak ngebayangin jd tur guide itu enak deh bs travelling sambil kerja. Tapi sygnya waktu mau kuliah dulu, my mom didn't allow me to study far from home. Bye dream job. 

5. Psikolog, ini juga salah satu pekerjaan yg dilarang org tua disekelilingku. My aunt told my dad to forbid me take the study of this. Alasannya: "Ngapain u pusingin hidup orang?" Haizz.. pdhl menurutku ak pekerjaan ini yang paling sesuai dengan sifatku yang too much empathy n sympathy dan suka mendengarkan (alias kepo kali ye).



Nah, ga ada kan judulnya mau jadi guru diatas?

So, how come I ended up here? 

Setelah frustasi ga boleh ini itu jurusan kuliahnya, akhirnya ak kuliah ambil jurusan Sastra Inggris aja di Binus. 
Jadi, pada wkt kuliah semester 2, ak uda mulai mikirin bagaimana mengisi waktu luang diantara jadwal kuliah yang lowong mulai semester 3 nanti. Awalnya ak bantuin tanteku kerja dibidang sablon. Tapi dr niatan part time, malah consume my whole time. Trz dr yang niatnya tambah duit jajan, malah berakhir jadi pekerjaan utama aka. ga kerja = no money for have fun. >.<

Karena kerja di tmpt tanteku tuh melelahkan banget krn pagi kuliah, siang pe malem ke pabrik, pulang sampe rmh uda menjelang midnight, jd jelas tugas kuliah keteteran and nilai IPK terjun bebas. So, I decided to quit. Trz apa nasib duit jajanku? 



Nah, saat inilah dikasih tawaran ngajarin les Inggris krn related to my subject of study jg. Pertama kali ngelesin ngajar anak kelas 2 SMP hanya seminggu sekali dengan gaji Rp 100.000/bulan. Mana cukuuup???  -_-'

Jadi cari lagi les2an buat private semua pelajaran di dekat rumah dan dapat anak SD kelas 3. 
Anknya sendiri sekarang ud kuliah loh and ak masih keep in touch sama dy walaupn dy sempet pindah ke Papua tapi tiap dy pulang Jakarta pasti ada ketempatku. 

Jadi selama kuliah, ak mendapat uang jajan dr hasil mengajar privat2 deh. Tapi waktu ak mau skripsi, ak uda mulai jenuh lesin. Jadi mau berhenti lesin buat fokus skripsi dulu. Selama skripsi ak "idup" ngandelin duit yg ud ditabung aja. (ak hanya minta k bokap duit kuliah or klo ud kepepeeet banget selama itu).

Hari dimana ak lulus sidang skripsi, ak ud mulai mikir cari job lain yg ga related ke ngajar. (ini juga hari ak mulai deket sama Mr. A loh ^^ #gakpenting)

Trz dimulailah my journey untuk menemukan pekerjaan yg tepat, sbb:

1. PR at Futures company

Labelnya sih PR tp namanya perusahaan futures pasti hrs client kn. Ak ga hobi dgn numbers n ga ngerti soal saham jadi diminta cari klien pn bingung. Tapi gaji yg di offer sih enak. Temen2nya juga antik2. Jadi I managed to stay 3 months. Tapi setelah dpt gaji bulan ketiga, ak cabut dah. Soalnya lama2 boring liatin tembok doank. 

2. Barista at a coffee shop. 

Ini sih job hasil penasaran. Jadi, waktu dulu tu ak merasa kerja di coffee shop itu keren deh. Ak suka liat org terliat sibuk kerja. Kesannya tuh profesional gt. *suka suka lu lah, Shal.* 

Trz kebetulan ada tmn SMP yg jd manager store di salah satu S***b**** n kirim SMS ( msh jaman forward sms nih) ttg loker buat store barunya. Waktu itu yg dicari untuk store di KM 13.5 tol Jakarta-Serpong. 

Ak mikir wah asik nih deket dr rumah. N iming2 salary n insentif besar jd lah ak kirim CV. Less than 1 month resign ak ud masuk deh ke coffee shop itu. 

Not like I imagine, salarynya just UMR at that time. Trz insentifnya ternyata tergantung performance store which it was new. Coffee shop itu hny klo di dalam mall or di pusat perkantoran pasti insentifnya besar. Untuk kapasitas barista sih uda lumayan banget lah wkt itu.
Udah gt itu 24 hours store jd ada shift tengah malam gitu sdgkn kalau di mall kan engga ada shift gt. 
Dan ternyata kerjanya not as fun as I thought. hahaha.. Harus hafalin resep juga loh, prosedur behind the counter itu ribet n di hitung nilainya gitu oleh store manager kita. 
Udah gt aksesnya susah buat ku( di tol kan). Walau ada antar jemput karyawan tapi kebagiannya dianter paling akhir. Mostly ak hny tidur dirmh and spent the rest day di jalan or toko deh. 

Dalam wkt bbrp minggu aja ak uda capek banget. Mr. A ud ga kasih sebenarnya dari awal, tp ak nya penasaran. Br seminggu aja dy jg ud protes. Stlh 3 minggu my parents started to complain juga krn takut ak drop n sakit. Belum 1 bulan ak uda resign dan krn masuknya tuh bukan pas di awal wkt cut off gajiannya nya jd pastinya gaji ga full lah sebulan tp lbh surprisingly gaji yg kuterima msh kena potong pajak dll dan yg tersisa hny bbrp puluh ribu perak plus bbrp ratus rupiah. Karena msh karyawan percobaan untuk 3 bln jd ak msh ga kebagian insentif. 
Gilee.. wktu itu rasanya mo lempar tu koin ke org yg ksh duit nya,  kerja lelah cm dpt remah2 aj.. 

I learnt my lesson from this place. I haven't experienced a lot n cm harapan n ngayal doank tanpa berusaha untuk tahu lbh bnyk. Jadinya kerja tuh sia2 aja. 


3. Assistant Teacher 
Untungnya ak tipe yang termsk cepet dapat job, ga pake lama nganggur ak nemu lowongan jd asisten guru TK di lokasi deket rumah juga. Yang jarak tempuhnya cm 10 menit lwt jalan kampung. Kompleknya msh termsk kawasan elit pada masa itu. Tapi skrg terkenal banjirnya ^^. 
Sekolah itu kebetulan cr asisten di Semester kedua. Jadi next month stlh sebln jobless ak ud dpt job lg. 
Kelas yg kuassist itu N1 aka nursery untuk anak 3-4 thn. Anak-anakny cute2 n ngegemesin. Tapi....ak ga sukanya hrs terus spt "heboh" ke anak2. Karena kita harus ekspresif dan ak merasa tekanan banget untuk begitu. Other than that, ak juga males aja hr selalu gunting2 or siap2in art stuffs or dekoran kelas. *lihat poin diatas mengenai ga rapi* 
Tapi disini yang menyenangkan adalah lingkungannya dan ak belajar banyak dengan teman guru kelas yg ak assist. Untungnya orgnya gelo super n friendly. 
Ga enak lainnya adalah krn ini sekolah milik swasta n pribadi, jd gajiannya kita tu suka2 ownernya deh kapan dy ke bank. Stlh semester itu berakhir ak resigned n pindah ke skul lain yg lebih besar.


4. Form and Subject Teacher

July 2008 

Ak uda mulai jadi wali kelas dan juga guru subjek Bahasa Indonesia di salah satu sekolah di Citra 2. Awalnya agak shocked di offer langsung jd wali kelas dan anehnya lagi bisa jd guru bahasa Indonesia pula. Padahal basicnya Inggris. 
But I accepted as a challenge.

Then, I knew that I enjoy being the teacher! And this job is the closest to my dream as psychologist. 

July 2009

Ini ceritanya ak bosen bangun pagi jd ak maunya balik les private aja krn ak uda dapat bbrp yg stabil n pembayarannya bisa sebesar ak ngajar skul jg.  Jadi, ak mutusin keluar kerja jg krn lingkungannya sudah tidak enak jg. *reason pastinya akn kuceritain di post Part 2*

Tapi nasib berkata lain, salah satu murid les ku ternyata mamanya buka sekolah di daerah Palem. Deket juga donk dr rumah. Dy offer ak buat ngjr di sekolah dy. Tdnya ak ga mau tp krn serakah (yap as simple as that), ak mikir bisa nambah jajan deh lagian jm bubar kerjanya cpt n msknya lbh siang trs kdg lesin anknya bisa di sana jd ga hrs ke daerah PIk rumahnya. Waktu itu ak jg pny murid les di daerah Citra 3. Mikirnya masih searah semua, dgn motor semua bs dapat deh. 

Ternyata bekerja di tmpt ini membawa petaka lbh besar, dr yg cm jd asisten guru lagi n santai malah akhirnya ak hrs took over the class krn kepsek sekaligus wali kelas itu kabur stlh 3 bln pertama, trz ketemu tmn kerja yg munafik yg minta di tabok. Ternyata byk back stabbers di lingkungan ini. Belum lg pada ga sehat jg guru2nya yg bisa mukul anak secara fisik. Kelamaan disini bisa jd ikutan negativity nya.

Belum lg perjalanan pindah tmpt ngajar dr Palem-CItra-PIK-rumah ternyata berujung jd penyiksaan fisik. Menyesal tp sdh ga bs mundur lg. Karena kasian anak2 skul itu klo ak jg cabut. 

Karena itu sekolah kecil, jd sekolahnya br mulai ada kelas 1 dgn murid hny 8 anak. Enaknya, kekeluargaan banget deh dgn ortu2nya. Gak enaknya, ak ngajar hampir semua mata pelajarannya termsk PE kecuali Chinese. 

So, I hang on there for 1 year, next year primary levelnya ga dilanjutkan ke kelas 2 dan krn too much case, jd ownernya decide untuk fokus di TK aja. I quit school n private tuition anknya jg. 


July 2010

Ak dpt job di daerah PIK, di sini ak kerja jd guru Bahasa Indonesia dan IPA. Pdhl applynya for Math, again di taroh di Indonesian Studies. 
Tp disini ak merasa betah. Drama dgn lingkungan kerja sih pasti ada tp krn teman2nya asik2 semua jd ak betah aja. Lagian ud males bo pindah2. 

I stayed here for 3 years dan ditahun ketiga ak diangkat jd head teacher di skul itu n finally bs jg jd ngajar Math. Despite I hate math when I was younger, tp skrg ak merasa ngajar math tu menyenangkan. 

Tapi, jd HT tuh ga asik sih. Hrs nanganin anak2 yg bermslh, hadepin guru, deal with parents n jg pihak sekolah. 

Di thn ketigaku di sekolah itu, ada major case involved pihak sekolah dan sjk itu terjd perubahan besar2an di sekolah. Ak ud merasa akan ga enak jdnya, so I decided to quit.

July 2013

Ak pindah ke tmpt kerjaku sekarang. Masih di PIK sih. Disini ak mengajar Math dan Science di tahun pertama. Kemudian Math dan IPA di tahun kedua dan br tahun ini hanya Math saja. 
I can't tell much about this school krn gimanapn ak masih mengajar disini sekarang. 




Ada jg saatnya ak kangen dgn pekerjaan di pabrik dl. Karena itu jg salah satu passion ku dibidang fashion. Yang pasti stlh mengajar lebih dr 10 thn dr jaman kuliah, ak ud mulai jenuh sih. 

Postingan suka dan dukanya ak ceritain di post berikutnya ya. 


Walaupun sudah bertahan menjadi guru dan ada saat2nya ak menikmatinya tp yg pasti ak tetep menyimpan rasa penyesalan dan pikiran "seandainya dulu....".

Mungkin kalau dl ak ngekeuh untuk kuliah jurusan yg ak mau, or lbh niat cari tahu ttg bagaimana menjadi arkeolog, mgkn hr ini akan berbeda ceritanya. 

Mungkin ak bisa jd berada di belahan dunia lainnya n blm tentu sudah menikah dan sedang merencanakan untuk punya ank dan bisnis tetap. 

Mungkin jg ga akan sebagus yg ak pikirkan or harapkan. 

Well, I will never know. 

What I know is that my future is waiting for me to write another one. I wanna make sure that this time, I won't do things that make me regret my choice in the future. 



P.S. Photo credited to Google



You have to grow from the inside out. None can teach you, none can make you spiritual. There is no other teacher but your own soul. 
Swami Vivekananda